Ekonomi

Platform Reservasi Hotel Menjamur, Inovasi atau Pengganggu? Ekonomi

Platform Reservasi Hotel Menjamur, Inovasi atau Pengganggu?. Sebagaimana bisnis angkutan transportasi online berbasis aplikasi, kini bisnis penginapan pun makin berkembang pesat dengan hadirnya sejumlah penyedia paltform jaringan hotel berbasis teknologi internet.

News, JAKARTA – Perkembangan bisnis rintisan berbasis platform digital turut mengubah model bisnis di hampir semua sektor usaha, tak terkecuali perhotelan.

Sebagaimana bisnis angkutan transportasi online berbasis aplikasi, kini bisnis penginapan pun makin berkembang pesat dengan hadirnya sejumlah penyedia paltform jaringan hotel berbasis teknologi internet.

Berbeda dengan platform penjualan tiket dalam jaringan atau daring (online travel agent), para pelaku usaha rintisan ini mengembangkan model bisnis dengan merangkul langsung para pemilik properti, untuk bergabung ke dalam platform berbasis web dan aplikasi daring dalam mengelola dan memasarkan kamarnya.

Perusahaan digital penginapan skala global yang menjadi pemain pertama di industri ini adalah Airbnb. Airbnb menjadi merek akomodasi yang paling banyak dicari oleh milenial melalui mesin pencarian Google.

Paltform ini hadir dengan model bisnis daring yang menghubungkan pemilik rumah, penginapan, atau hotel dengan konsumen. Airbnb tentu tidak memiliki properti sendiri. Perusahaan ini menjadi perantara bagi calon penyewa dengan pemilik hunian.

Kesuksesan Airbnb dalam menjalankan bisnisnya dipengaruhi oleh model sharing economy. Walau tidak memiliki aset fisik, integrasi antara pemilik properti dan pelanggan dapat terjadi dalam sentuhan jari dalam aplikasi daring.

Secara gamblang terlihat bahwa metode ini tidak hanya menguntungkan kedua belah pihak, tetapi juga pertumbuhan industri penginapan dan pariwisata.

Kini, perusahaan teknologi yang menawarkan platform digital perhotelan itu makin banyak pilihannya, antara lain Airy, Reddorz, Travelio, OYO Hotels & Homes, Zen Room dan sebagainya.

Bedanya, Airbnb tidak menyeragamkan layanan dan fasilitas, tetapi membebaskan pemilik properti untuk membuat layanan terbaik yang dimilikinya. Sementara itu, perusahaan yang muncul kemudian, justru melakukan penyeragaman standar pelayanan agar pengunjung bisa mendapatkan fasilitas standar hotel.

Namun, kemunculan Airbnb disebut telah mengubah iklim industri perhotelan karena pertumbuhannya yang semarak.

Merespons fenomena itu, para pelaku perhotelan pada dasarnya menyambut baik kehadiran perusahaan teknologi perhotelan tersebut. Namun, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menekankan agar semua kegiatan usaha tersebut harus memenuhi syarat dan ketentuan sesuai dengan regulasi yang berlaku di Indonesia.

Asisten Deputi Industri dan Regulasi Pariwisata Kementerian Pariwisata, R. Kurleni Ukar mengatakan, digital tourism merupakan suatu keniscayaan sehingga pihaknya dapat membuka diri, termasuk terhadap perusahaan berbasis digital lainnya.

“Belum ada regulasi yang khusus mengatur platform digital perhotelan itu. Pemerintah mengarahkan pemilik akomodasi dan hotel untuk mengikuti peraturan yang ada di Indonesia, termasuk soal standar jasa penyediaan akomodasi.”

Kurleni menjelaskan bahwa pemilik hotel dapat bekerja sama dengan platform sepanjang tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku, misalnya KUHP atau larangan-larangan lain.

“Aturan perundang-undangan seperti Perjanjian Internasional, Undang Undang [UU] Kepariwisataan, UU HKI [Hak Kekayaan Intelektual], UU ITE [Informasi dan Transaksi Elektronik], UU Perlindungan Konsumen dan lainnya dapat menjadi acuan,” tambahnya.

Menurutnya, banyak pihak menilai platform daring perhotelan sebagai disruptor atau pengganggu bagi industri akomodasi konvensional. Namun, dapat dinilai juga sebagai inovasi dalam industri akomodasi.

Tags

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close