Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah di “Sekarkijang” cukup baik Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah di “Sekarkijang” cukup baik. Pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah di Jember mampu tumbuh sebesar 69,50 persen yoy (September 2019) disertai tingkat non performing financing (NPF) yang relatif kecil sebesar 1,54 persen (September 2019)

Jember, Jawa Timur – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jember Hestu Wibowo mengatakan pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah di wilayah Keresidenan Besuki dan Lumajang (Sekarkijang) yang meliputi Kabupaten Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, dan Lumajang tercatat cukup baik.

"Hal itu ditandai dengan pertumbuhan yang positif, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 38,39 persen pada September 2019) disertai tingkat non performing financing (NPF) yang relatif kecil sebesar 1,65 persen pada Sep 2019," katanya saat membuka kegiatan talkshow dalam rangkaian Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) 2019 di Gedung Serbaguna Kantor Bank Indonesia Jember, Jumat.

Sementara itu, porsi pembiayaan perbankan syariah terhadap total penyaluran dana di eks Keresidenan Besuki dan Lumajang mencapai 5,56 persen.

Menurut dia, perkembangan keuangan syariah di Jember tercatat cukup baik yang ditandai oleh pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah yang meningkat cukup tinggi.

"Pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah di Jember mampu tumbuh sebesar 69,50 persen yoy (September 2019) disertai tingkat non performing financing (NPF) yang relatif kecil sebesar 1,54 persen (September 2019)," katanya.

Serta porsi pembiayaan perbankan syariah terhadap total penyaluran dana di Jember mencapai 7,90 persen. Sementara porsi pembiayaan perbankan syariah terhadap total penyaluran dana di Jember mencapai 7,90 persen.

Ia menjelaskan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia masih terus berkembang, secara nasional ekonomi dan keuangan syariah berkembang cukup baik yang telah terlepas dari fenomena "five percent trap".

"Sampai dengan tahun 2018, market share ekonomi dan keuangan syariah mampu menembus porsi 8,50 persen terhadap ekonomi dan keuangan secara keseluruhan," ujarnya.

Hestu mengatakan potensi ekonomi syariah global yang berkembang pesat memicu berbagai negara di dunia untuk berlomba-lomba memanfaatkan peluang yang ada dan berupaya menjadi pemain utama dalam industri halal global.

"Untuk mendorong tumbuhnya sektor riil ekonomi syariah tersebut, baik dengan menarik investasi baru maupun dengan optimalisasi faktor produksi yang telah tersedia, tentunya membutuhkan dukungan keuangan syariah sebagai sumber pembiayaan aktivitasnya," katanya.

Menurut dia, Indonesia dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia merupakan faktor pendukung pengembangan ekonomi syariah di dalam negeri.

 

Tags

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close