Ekonomi

Pengembang Menahan Peluncuran Produk Baru Tahun Depan Ekonomi

Pengembang Menahan Peluncuran Produk Baru Tahun Depan. Untuk lebih menggairahkan sektor properti, dibutuhkan adanya kerja sama yang baik antara pengembang dan pemerintah.

News, JAKARTA — Kondisi pasar properti pada 2020 yang diprediksi masih cukup menantang membuat sejumlah pengembang cenderung untuk menahan meluncurkan banyak produk baru.

Head of Research and Consultancy Savills Indonesia Anton Sitorus mengatakan bahwa pada tahun depan produk-produk baru yang diluncurkan para pengembang properti belum akan mengalami kenaikan yang signifkan.

“Kondisi penjualan properti pada 2020 bisa berangsur-angsur membaik asalkan kondisi perekonomiannya bisa lebih bagus dari tahun ini,” ujar Anton, Selasa (29/10/2019).

Untuk lebih menggairahkan sektor properti, dia mengungkapkan dibutuhkan adanya kerja sama yang baik antara pengembang dan pemerintah. Pemerintah diharapkan supaya mengeluarkan regulasi-regulasi yang lebih kondusif untuk mendorong pertumbuhan sektor properti.

“Pemerintah juga diharapkan bisa menjaga stabilitas politik pascapemilu,” ucapnya.

Sementara itu, pengembang diharapkan agar menyesuaikan harga properti untuk bisa menarik minat konsumen dan mendorong daya beli konsumen.

Anton menilai harga properti yang terus merangkak naik menyebabkan konsumen cenderung menunda untuk membeli properti.

Lebih lanjut, Anton mengungkapkan bahwa kondisi pasar properti yang cenderung stagnan sebenarnya tidak hanya dialami Indonesia.

Kondisi tersebut, katanya, juga terjadi pada beberapa negara atau daerah seperti Singapura, Malaysia, dan Hong Kong yang dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti perang dagang dan ancaman resesi global.

Hal Senada juga disampaikan Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto. Menurutnya, kondisi sektor properti pada 2020 belum akan banyak berubah jika dibandingkan kondisi pada tahun ini.

Menurutnya, proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi dan faktor ketidakpastian ekonomi global bakal sangat memengaruhi sektor properti di Indonesia.

Para pengembang juga diprediksi cenderung menahan diri untuk meluncurkan produk-produk baru dan lebih memilih untuk fokus mengembangkan produk-produk yang sudah ada.

“Belum bisa terlalu optimistis karena masih dibayang-bayangi faktor eksternal. Kalau perang dagang tidak kunjung selesai pasti akan berpengaruh kepada negara-negara seperti Indonesia yang ekonominya bergantung pada kondisi global,” jelasnya.

Menurut Ferry, pertumbuhan ekonomi pada 2020 yang diperkirakan masih akan tetap berada pada kisaran 5% akan membuat investor kembali mempertimbangkan untuk investasi properti.

“Kalau imbal hasilnya tidak terlalu besar, akan sulit juga untuk menarik investor. Apalagi investasi properti ini kan jangka panjang,” ungkapnya.

Untuk mengerek penjualan, Ferry mengungkapkan bahwa salah satu langkah yang bisa dilakukan para pengembang ialah lebih menyasar segmen pengguna yang memang memiliki kebutuhan tempat tinggal.

Tags

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close