Automotive

Industri Otomotif Jepang Jawab Kritikan Dunia di Tokyo Motor Show 2019 Automotive

Industri Otomotif Jepang Jawab Kritikan Dunia di Tokyo Motor Show 2019. Kini jorjoran investasi kendaaan otonom

Tokyo – Deretan truk berukuran jumbo menyambut pengunjung di Hall A, Tokyo Big Sights, di Distrik Ariake Tokyo’s Koto-ku, Odaiba, tempat berlangsungnya Tokyo Motor Show 2019.

“Challenge The Changes” demikian tulisan di badan truk yang dicat warna perak, warna yang identik dengan nuansa masa depan. Tokyo Motor Show 2019 yang berlangsung tanggal 24 Oktober sampai 4 November 2019 mengusung tema “Open Future” yang mengantarkan pengunjung ke lebih dari 100 produk dari 61 manufaktur industri otomotif. 

Hampir semua merek Jepang yang mendunia hadir.  Paviliun paling besar di Aomi Hall A, menampilkan koleksi purwarupa (prototype) kendaraan mobilitas masa depan dari merek Toyota.

Direktur Urusan Korporasi Astra International, Pongki Pamungkas, mengatakan Tokyo Motor Show selalu menampilkan konsep kendaraan untuk beberapa tahun berikutnya. “Apa yang kita lihat di sini, beberapa tahun lagi mungkin hadir di pasar, tetapi belum tentu semuanya. Sangat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing industri di setiap negara,” kata Pongki saat saya tanyai di Paviliun Toyota.

Ulasan di media massa Jepang menyebutkan, Tokyo Motor Show 2019 adalah apa yang diharapkan oleh mereka yang tinggal di negeri berpenduduk padat, dengan sumber energi yang kian terbatas. Produk-produk yang ditampilkan banyak berupa kendaraan listrik, mobil berukuran kecil, konsep mobil gaya retro alias antik yang bukan selera konsumen AS, misalnya, salah satu pasar besar industri otomotif dunia.

Pameran dua tahunan untuk kendaraan konsep yang digelar Asosiasi Manufaktur Otomotif Jepang (JAMA) ini dianggap sebagai salah satu dari lima besar pameran otomotif dunia bersama pameran rutin yang digelar di Detroit, Jenewa, Frankfurt dan Paris.  “Tahun ini, Frankfurt lebih besar dari Tokyo Motor Show,” kata Pongki.

Untuk menarik lebih banyak pengunjung, TMS 2019 juga menampilkan atraksi menghibur, termasuk pesta laser, stan Kidzania dan lapangan untuk makan dan minum bergaya piknik. Tahun ini, arena pameran jugfa meluas ke arah Tokyo Waterfront City. Mal Megawebb yang letaknya di samping Tokyo Big Sights dan selama ini dikenal sebagai ruang pamer terbesar di Jepang untuk produk Toyota, juga digunakan.

1.Tokyo Motor Show dimaksudkan untuk membangun industri otomotif di Jepang

Industri Otomotif Jepang Jawab Kritikan Dunia di Tokyo Motor Show 2019

Deretan konsep truk masa depan di Tokyo Motor Show 2019 mengingatkan kepada awal mula pameran otomotif ini.

Sejarah Tokyo Motor Show dimulai pada tahun 1954, sebagai pameran pertama kendaraan produksi Jepang.  Tokyo Motor Show pertama dibuka oleh Pangeran Takamatsu.  Saat itu publik masih berjuang untuk mendapatkan tiga simbol status bagi masyarakat Jepang, yaitu kulkas listrik, mesin cuci dan pembersih vakum. 

Mayoritas masyarakat belum mampu membeli kendaraan bermotor. Memiliki sebuah mobil masih jadi mimpi bagi konsumen di Jepang. Sementara itu, kalangan manufaktur semangat membangun industri otomotif dan kembali memproduksi mobil Jepang.  Menurut data di laman TMS 2019, pameran pertama diikuti oleh 254 perusahaan Jepang, menampilkan 267 kendaraan bermotor, termasuk 17 mobil penumpang. 

Mayoritas yang dipamerkan adalah truk dan sepeda motor.  Pameran digelar selama 10 hari dan dikunjungi 547 ribu orang.  Perjalanan Tokyo Motor Show sampai yang ke 46 kali tahun ini, didukung oleh tumbuhnya permintaan konsumen kendaraan bermotor.

2. Dominasi industri otomotif Jepang di dunia belakangan dinilai menurun

Industri Otomotif Jepang Jawab Kritikan Dunia di Tokyo Motor Show 2019

Produsen otomotif di Jepang, dipimpin oleh tiga besar, yaitu Toyota Motor Corp., Nissan Motor Co., dan Honda Motor Co. yang didukung manufaktur komponen seperti Denso Corp. dan Calsonic Kansei Corp. Belakangan dianggap turun pengaruhnya di industri otomotif dunia.

Sebuah artikel di laman Japantimes.co mengulas bahwa dari sisi jumlah mobil yang terjual, belakangan ini merek Jepang mulai disusul oleh produser komponen mobil Jerman, seperti Robert Bosch GmbH dan Continental AG.

Perusahaan Jerman ini mulai membuat industri otomotif Jepang kewalahan dalam bidang teknologi kendaraan otonom alias tanpa pengendara. Ini bidang yang dianggap paling maju dalam bidang mesin. Mulai terungkap titik lemah dari industri otomotif Jepang: mereka terlalu berkonsentrasi pada mesin, transmisi dan komponen sistem penggerak sebagai kekuatan manufaktur mereka. 

Keiretsu, atau konglomerasi yang terjadi di kepemilikan industri otomotif di Jepang, menyebabkan hubungan erat antara produsen mobil dan penyuplai komponen, yang menghambat adopsi inovasi.

Produsen otomotif di Jepang mulai ditinggalkan insinyur muda yang brilian. Sebagian di antara mereka eksodus ke produsen komponen otomotif Jerman yang gencar pemasang iklan di media di Jepang. Mereka yang eksodus ke perusahaan lain mengatakan, alasan pindah adalah ingin bekerja di perusahaan yang serius membangun teknologi tinggi untuk kendaraan otonom.

Sumber di industri otomotif Jepang menyebutkan bahwa produsen Jepang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap pemanfaatan teknologi cerdas dalam membangun kendaraan otonom. 

Belakangan, manufaktur Jepang mengucurkan cukup banyak investasi untuk konsumsi bahan bakar yang lebih efisien, meredam polusi beracun dari pemanasan kendaraan dan memperbaiki polusi suara dan goncangan.

3. Tokyo Motor Show 2019 seolah menjawab kritikan bahwa Jepang tidak serius bangun mobil listrik

Industri Otomotif Jepang Jawab Kritikan Dunia di Tokyo Motor Show 2019

Selama ini Volkswagen, Geely dan Volvo, Ford, General Motors, BMW, Mercedes, Audi, Jaguar, Land Rover dan sejumlah produsen di Tiongkok memperkuat upaya mereka membangun kendaraan listrik sebagai kendaraan masa depan. Media di Jepang, menganggap, apa yang ditampilkan di Tokyo Motor Show 2019 adalah jawaban Jepang untuk mengejar ketertinggalan di bidang kendaraan listrik.

Bahkan Toyota sempat dianggap tidak serius membangun kendaraan listrik di tahun 2019. Tahun ini Toyota mengusung konsep kendaraan mobilitas yang sarat dengan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), dukungan penggerak listrik dan ramah lingkungan. Secara keseluruhan industri otomotif Jepang menanamkan investasi lebih dari US$ 26 miliar di bidang teknologi kendaraan listrik. 

Perusahaan seperti Honda dan Mazda menargetkan seluruh produknya berbasis bahan bakar listrik pada tahun 2030. Toyota menargetkan bahwa separuh dari penjualan tahunannya pada 2025, sekitar 5,5 juta unit, diperoleh dari kendaraan listrik.

4. Toyota mengusung konsep kendaraan mobilitas di Tokyo Motor Show 2019

Industri Otomotif Jepang Jawab Kritikan Dunia di Tokyo Motor Show 2019

Desain yang futuristik. Penggunaan kecerdasan buatan. Memudahkan hidup konsumen di era yang kian sibuk. Pemanfaatan energi terbarukan yang efisien dan ramah lingkungan.  Keselamatan penumpang dan pengguna.  Kesan ini yang saya dapatkan saat memasuki Paviliun Toyota di Aomi Hall A di Tokyo Big Sights, 24 Oktober 2019. 

Ruang pameran Tokyo Motor Show 2019 masih cukup lengang, karena belum dibuka untuk umum.  Tokyo yang sebelumnya sempat dilanda badai Hagibis yang memakan korban jiwa puluhan orang, sempat membuat penyelenggara khawatir tahun ini pengunjung bakal turun.  TMS le-45 pada 2017 dikunjungi 700 ribuan orang, turun dibandingkan TMS 2015 yang menarik 800 ribu lebih pengunjung.  Dua tahun lalu, penyebab turunnya pengunjung karena ancaman badai juga.

Karena itu Toyota, misalnya menghadirkan suasana sebuah rumah masa depan.  Pengunjung bisa menikmati “sapu masa depan” untuk meringankan beban membersihkan rumah (tentu skala rumahnya gede banget), menyajikan minuman buat tamu dengan robot lemari minuman, mengetes kesehatan dan mood lewat kendaraan kesehatan masa depan.  Supaya menarik, seorang model top di Jepang didatangkan untuk mencoba sapu yang “ditunggangi” bagai peri  dalam kisah dongeng di film fantasi.

“Tahun ini konsep kami dibanding dengan tahun lalu sangat berbeda., Toyota ingin tunjukkan masa depan mobilitas masyarakat.  Jadi, kita bisa lihat dukungan teknologi robotik dan AI untuk mewujudkan filosofi Toyota yang selalu konsentrasi kepada kebutuhan konsumen,” kata Y. Nakata, Presiden Direktur Toyota Astra, menjawab pertanyaan saya.

Saat mencoba mengetes mood di mobil kesehatan masa depan, saya mendapatkan hasil dominan “happy”.  Soalnya kamera yang dilengkapi AI menangkap wajah saya yang banyak tertawa saat mencoba alat itu. Kami juga disuguhi air mineral lewat robot lemari yang berjalan ke sana-kemari. Beberapa boleh dicoba, disentuh.  Beberapa hanya bisa dinikmati sambil pose foto di sampingnya. Misalnya, mobil balap dengan bentuk yang mengingatkan kepada mobil Batman. Warnanya pun mirip. Hitam dan perak.

Kapan produk-produk ini bakal dinikmati konsumen? Nakata tertawa. “Ini kendaraan konsep, kalau mau diproduksi, tentu kita harus kalkulasi berapa harga jual dan bagaimana respons konsumen,” kata Nakata.

5. Toyota tampilkan Beyond Mobil di Tokyo Motor Show 2019

Industri Otomotif Jepang Jawab Kritikan Dunia di Tokyo Motor Show 2019

Saat mampir ke arena Mal Megaweb, kami disuguhi atraksi robot pemain basket, posturnya tinggi dan berkulit hitam.  Robot ini secara presisi menembakkan bola masuk ke gawang. Bum…three point! Pengunjung bersorak. “Wah, sebentar lagi profesi pemain basket terancam digantikan robot,” ucap seorang pengunjung.

Sebagaimana disampaikan Nakata, pertanyaannya adalah seberapa mahal investasi menciptakan robot-robot ini, dan seberapa besar permintaan pasar, untuk menentukan apakah produk canggih ini bakal memenuhi skala keekonomian untuk diproduksi.

Direktur Astra Henry Tanoto mengatakan, konsep Paviliun Astra menampilkan produk yang lebih dari sekedar mobil canggih. Beyond mobil. Toyota menjadikan Tokyo Motor Show 2019 sebagai ajang menunjukkan keseriusan di bidang perusahaan mobilitas. 

Olimpiade Tokyo 2020 akan menjadi peluncuran Toyota e-Palette, sebuah kendaraan penumpang otonom yang bisa memindahkan maksimum 20 penumpang di dalam maupun antar venue cabang olahraga. 

 Presiden Toyota Motor Corporation Akio Toyoda mengatakan keinginan perusahaan Jepang ini untuk “membawa kegembiraan dan kebebasan bergerak untuk semua.  Ini adalah bentuk dari masyarakat mobilitas masa depan yang kita impikan bersama.”

Paviliun Toyota dan merek Jepang lain yang memamerkan kendaraan konsep di Tokyo Motor Show 2019 seolah ingin menjawab kritik menurunnya dominasi Jepang dalam inovasi mobil listrik dan otonom.

Tags

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close