Tekno

Font Karya Adien di Logo Piala Dunia U-20 Banyak Dipakai di Yogya Tekno

Font Karya Adien di Logo Piala Dunia U-20 Banyak Dipakai di Yogya. Desainer grafis dan huruf Adien Gunarta menciptakan font Upakarti, yang dipakai dalam logo Piala Dunia U-20

News, Jakarta – Desainer grafis dan huruf Adien Gunarta sempat menjadi perbincangan di media sosal Twitter. Pasalnya, desain huruf yang dibuatnya digunakan untuk logo Piala Dunia U-20 2021 di Indonesia. Tim kreatif PSSI dianggap tidak meminta izin kepada Adien.

“Seneng sih bisa dipake di acara segede itu, seneng bisa kasih manfaat ke masyarakat luas,” ujar Adien kepada Tempo melalui pesan pendek, Jumat, 25 Oktober 2019.

Pria asli Probolinggo, Jawa Timur itu menceritakan bahwa font yang dia buat itu bernama Upakarti, yang diunggahnya ke internet pada 2015 secara bebas. Semua orang bisa menggunakannya, dan logo Piala Dunia yang diumumkan PSSI kemarin itu menggunakan font Upakarti itu.

Saat ini, Adien bekerja sebagai staf komunikasi di Wikimedia Indonesia. Bungsu dari tiga bersaudara itu menjelaskan bahwa font yang dia buat merupakan pengembangan dari font bernama Kemasyuran Jawa pada 2011 silam. Saat itu merupakan awal mula Adien membuat font dan masih menggunakan online tools bernama Fontstruct. “Masih gak rapi, masih amburadul di banyak bagian,” ujar dia.

Font upakarti karya Adien Gunarta (dok.adien gunarta)

Kemudian, pada 2015, dia terfikir untuk mengembangkannya menggunakan CorelDRAW. Sehingga beberapa bentuk huruf dipertahankan, dimuluskan, dan ada pula yang dia buat ulang.

Putra dari pasangan M. Gun Abdul Rasyid (alm) dan Sri Hartati itu juga membuat versi miringnya, agar terkesan seperti tulisan tangan alami, dan membuat beberapa ligatur (dua huruf tertentu yang jika bertemu jadi gabung, ada di gambar ligatatur yang hijau).

“Ini inspirasinya emang mengambil dari bentuk aksara Jawa, tapi dibikin agak gemuk dan membulat, ada juga kemiripan sama desain hurufnya ‘Tolak Angin’ yang punya bulatan di ujung huruf,” katanya. “Ini udah banyak banget yang pake, apalagi kalo jalan-jalan di Yogya ya, di Malioboro gitu beberapa kaos yang dicetak pake font ini. Beberapa resto juga beberapa ada yang make font ini.”

Namun, Adien berujar, sebelum viral di Twitter, PSSI tidak menghubunginya untuk meminta izin. Kemudian setelah viral, ada pihak dari PSSI yang menghubunginya melalui direct message di akun Twitter-nya. “Intinya mohon maaf karena belum izin dulu. Saya jawab gapapa mas, santai saja, begitu,” tutur Adien.

Hal itu dibenarkan Kepala Hubungan Media dan Promosi Digital PSSI Gatot Widakdo. Menurut Gatot, yang mempersoalkan di media sosial itu bukan Adien melainkan teman-teman Adien. 

Adien tertarik di dunia grafis sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga itu sudah mulai mengutak-atik font melalui platform Fonstruct.com saat itu. “Eh ternyata suka bikin-bikin huruf, mungkin masih keturunan dari almarhum kakek yang juga berkecimpung di bidang serupa, yakni kaligrafi,” kata Adien Gunarta.

Tags

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close