News

Kisah Samsiah dan Anaknya Berlindung di Gereja saat Kerusuhan Wamena News

Kisah Samsiah dan Anaknya Berlindung di Gereja saat Kerusuhan Wamena. Samsiah kini trauma

Wamena – Tangis Samsiah pecah. Perempuan 45 tahun yang tengah duduk di velbed bantuan Kementerian Sosial (Kemensos) ini menutup mukanya dengan selimut. Isak tangisnya membuat sesama pengungsi mendekat dan berusaha menenangkan.

“Saya ingin Wamena aman, Bapak. Supaya anak-anak saya bisa kembali sekolah,” kata Samsiah saat Tim Kementerian Sosial berkunjung, Minggu (6/10).

1. Sang anak berlindung di gereja saat terjadi kerusuhan

Kisah Samsiah dan Anaknya Berlindung di Gereja saat Kerusuhan Wamena

Di antara isak tangisnya, Samsiah bercerita saat kerusuhan di Wamena terjadi. Kala itu, anaknya sedang bersekolah. Perempuan asal Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan ini bersama warga mengungsi ke Kodim.

Anaknya yang duduk di bangku SMP itu ditemukan saat berlindung di sebuah gereja. Ia kemudian dijemput dan dipulangkan ke Takalar, hingga situasi di Wamena kondusif dan aktivitas sekolah mulai berjalan.

“Harapan kami adalah keamanan di lingkungan kami. Supaya bisa hidup tenang bersama keluarga,” kata Samsiah.

2. Psikologi Samsiah dan warga pasca-konflik masih terguncang

Kisah Samsiah dan Anaknya Berlindung di Gereja saat Kerusuhan Wamena

Hingga kini psikologi Samsiah dan warga lainnya pasca-kerusuhan di Wamena masih terganggu. Mereka merasa ketakutan, cemas, khawatir, dan tegang.

Selain itu, Samsiah dan warga lain sering terkejut apabila mendengar suara keras, selalu waspada, murung, sedih, dan tidak tenang saat tidur malam.

“Untuk itu sebagaimana arahan Menteri Sosial Bapak Agus Gumiwang Kartasasmita, kami terus melakukan rehabilitasi sosial untuk memulihkan kondisi psikologi mereka,” kata Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat mengatakan.

3. Proses rehabilitasi sosial pada Samsiah dan warga lainnya masih berlangsung

Kisah Samsiah dan Anaknya Berlindung di Gereja saat Kerusuhan Wamena

Proses rehabilitasi sosial pada Samsiah dan warga lain dilakukan dengan memberikan layanan dukungan psikososial. Beberapa cara di antaranya mengajak mereka terus beraktivitas, melibatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan bersama pengungsi lain. Sehingga, mereka tidak melamun berkepanjangan dan perlahan dapat menyembuhkan trauma.

Misalnya, Samsiah dan penyintas lainnya di pengungsian ikut memasak di dapur umum, berdoa bersama, mengajak mereka membersihkan lingkungan, hingga relaksasi imajinatif dan relaksasi otot progresif.

“Seperti yang dilakukan oleh personel Kodim 1702/Jayawijaya, Polres Jayawijaya, pengungsi, Pemda, dan relawan dalam Karya Bakti Bersama. Mereka berkeliling membersihkan sekolah-sekolah yang rusak, puing-puing kantor pemerintahan, rumah-rumah warga, pasar, dan jalan raya,” kata Harry.

4. Situasi di Wamena mulai kondusif

Kisah Samsiah dan Anaknya Berlindung di Gereja saat Kerusuhan Wamena

Pada kesempatan yang sama, Komandan Kodim 1702/Jayawijaya Letkol Inf Chandra Dianto mengatakan situasi di Wamena perlahan mulai kondusif. Hal ini terlihat dari aktivitas masyarakat sudah mulai membuka toko, keluar rumah, dan kondisi di jalan sudah mulai ramai lalu lalang kendaraan.

“Melalui kegiatan Karya Bakti Bersama, harapannya kota bisa tertata lagi, sehingga aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat dapat berjalan kembali seperti biasa,” kata Chandra.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Kemensos, atas bantuan logistik dan peralatan dapur umum yang sangat bermanfaat saat terjadi lonjakan jumlah pengungsi, pada hari pertama pasca-kerusuhan.

“Awalnya dapur umum memasak menggunakan logistik Kodim dan peralatan seadanya. Menggunakan panci-panci kecil dan memasak dengan kayu bakar. Hari kedua pasca-kerusuhan Tim Kemensos sudah di Wamena, dan diberikan perlengkapan dapur umum dan sampai saat ini dapur umum berjalan dengan baik,” terang dia.

Salah seorang warga di pengungsian, Ami yang ditemui di Dapur Umum Pengungsian Kodim menceritakan, setiap hari ia memasak bersama ibu-ibu Persatuan IStri Tentara (Persit) memasak dua kali sehari. Untuk sarapan diberikan roti, susu, dan sereal dari Kodim.

“Siang tadi masak nasi, sayur capcay, dan opor ayam. Kalau untuk malam ini menunya tumis kangkung dan telur rebus masak balado,” kata perempuan 34 tahun itu. 

Tags

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close