Bola

Harga Jadi Kendala Penggunaan VAR di Liga 1

Harga Jadi Kendala Penggunaan VAR di Liga 1. Yoyok Sukawi menyatakan harga bisa menjadi kendala penerapan video asisten wasit (video assistant referee/VAR) di Liga 1 Indonesia.

News, Jakarta – Anggota Komite Eksekutif Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (Exco PSSI) Yoyok Sukawi menyatakan harga bisa menjadi kendala penerapan video asisten wasit (video assistant referee/VAR) di Liga 1 Indonesia. Menurut dia, harga VAR yang sesuai dengan standar federasi sepak bola dunia (FIFA) diperkirakan mencapai Rp 7 miliar.

Yoyok menjelaskan federasi menawarkan dua pilihan penggunaan VAR, yakni oleh PT Liga Indonesia Baru selaku operator kompetisi atau klub peserta Liga 1 Indonesia. “Problem-nya pembiayaan saja yang terbesar,” kata dia saat dihubungi Tempo, Rabu, 29 Mei 2019.

Ikut terlibatnya klub dalam pembiayaan VAR, ucap Yoyok, lantaran mereka mengusulkan agar penggunaan teknologi itu bisa diterapkan di Liga 1 Indonesia. Ia merasa sangsi bila klub mau membeli teknologi VAR seharga Rp 7 miliar.

Begitu juga bila operator liga yang harus menanggung atau membeli VAR untuk ditempatkan di setiap stadion peserta Liga 1 Indonesia. “Kalau harus dibebankan ke PT LIB rasanya tidak mampu,” kata Yoyok.

Meski demikian, lanjut dia, bisa saja PT Liga Indonesia Baru membeli sejumlah teknologi VAR untuk digunakan secara bersama-sama atau bergantian. Ia menyebut sedikitnya diperlukan lima sampai sepuluh unit VAR untuk menjangkau setiap pertandingan Liga 1 yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Tahun lalu, Liga Utama Brasil atau Serie A sempat ingin menjajal teknologi VAR. Namun wacana itu mendapat penolakan ramai-ramai dari klub. Sebanyak 12 klub memilih menolak, tujuh mendukung, dan satu abstain. Penolakan klub amat beralasan. Sebab federasi sepak bola Brasil disebut-sebut meminta klub membayar teknologi VAR sekitar Rp 8,6 miliar untuk satu musim penuh.

| SPORT BUSINESS

Tags

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close