Ekonomi

Azwi Serukan Setop Impor Sampah Plastik, Ikuti Negara di Asean Ekonomi

Azwi Serukan Setop Impor Sampah Plastik, Ikuti Negara di Asean. Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) menyerukan kepada pemerintah untuk menyetop impor sampah plastik dari negara-negara maju, mengikuti langkah serupa dari sejumlah negara di Asean.

News, JAKARTA – Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) menyerukan kepada pemerintah untuk menyetop impor sampah plastik dari negara-negara maju, mengikuti langkah serupa dari sejumlah negara di Asean.

“Beberapa negara Asean telah merespons perubahan perdagangan limbah plastik global ini dengan pembatasan impor,” kata Direktur Eksekutif Ecological Observations and Wetlands Conversation (Ecoton) Prigi Arisandi di Jakarta, Selasa (25/6/2019).

Seruan itu disampaikan Prigi saat Report Launch and Film Skreening berjudul Perdagangan Sampah Plastik, di Kantor Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Jakarta.

Ecoton merupakan salah satu elemen penginisiasi AZWI, selain beberapa lembaga lain, Walhi, BaliFokus/Nexus3, dan Indonesian Center for Environmentl Law (ICEL).

Prigi juga menyampaikan laporan hasil investigasi perdagangan limbah plastik impor dari salah satu industri di Jawa Timur yang dituangkannya dalam film berjudul Take Back! itu.

Menurut dia, limbah kertas memang menjadi bahan baku industri kertas di Indonesia sehingga banyak diimpor, terutama dari negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Eropa.

Malaysia telah mencabut izin impor 114 perusahaan dan menargetkan pelarangan impor pada 2021, Thailand juga menargetkan pelarangan impor, demikian pula Vietnam.

Penasihat senior BaliFokus/Nexus3 Yuyun Ismawati membenarkan Thailand sudah menargetkan menutup impor limbah plastik dan ekonomis, sementara Filipina secara politis menyatakan perang terhadap sampah impor.

“Sayangnya, Indonesia tidak punya sikap tegas dan terkesan membela industri tanpa regulasi dan penegakan hukum yang jelas,” katanya, melalui tayangan teleconference.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Walhi Nur Hidayati meminta perusahaan-perusahaan pengimpor sampah plastik untuk bertanggung jawab menangani pencemaran bawaan dari kegiatan tadah, pindah tangan, dan sumbang sampah.

Yang dirugikan dari tidak terkontrolnya impor sampah plastik, kata dia, adalah pencemaran lingkungan dan kualitas kesehatan masyarakat, sementara yang diuntungkan hanyalah korporasi.

Tags

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close