Nasional

Bareskrim Polri Usut Kasus Dugaan Investasi Bodong GCG Nasional

Bareskrim Polri Usut Kasus Dugaan Investasi Bodong GCG. GCG Asia tak terdaftar dalam Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappepti).

JAKARTA – Bareskrim Polri sedang mengusut kasus dugaan investasi bodong dari Guardian Capital Grup (GCG) Asia. Pasalnya, dalam data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), GCG Asia tak terdaftar dalam Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappepti).

Kanit 4 Subdit Pajak, Asuransi dan Investasi Direktorat Tindak Pidana Khusus Bareskrim Polri, Kompol Setyo Bimo menjelaskan, modus yang dilakukan investasi GCG Asia adalah dengan mengadakan seminar-seminar di hotel mewah. Dalam seminar tersebut turut mengundang tokoh pemerintahan, tokoh masyarakat dan tokoh agama serta penawaran bonus jika bergabung dalam investasi tersebut.

“Bonus itu bisa seperti barang-barang mewah kapal pesiar, mobil, bonus keuntungan yang akan didapatkan. Itu yang membuat masyarakat tergugah dan menempatkan dananya untuk investasi,” kata Bimo dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (2/8/2018).

Bimo menyatakan, pihaknya sudah menerima beberapa laporan yang menjadi korban dalam kasus investasi bodong ini. Para korban yang tersebar di beberapa daerah membuat pihak Bareskrim mengambil alih kasus ini.

Lebih lanjut, Bimo menuturkan, korban paling banyak berasal dari wilayah Sumatera Utara. Pihaknya pun akan membentuk satgas guna mengumpulkan para korban.

Ilustrasi

“Ini kan tindak pidana materiil, kita membutuhkan laporan dari korban untuk kita tahu korbannya siapa saja dan berapa nilai kerugiannya,” ujar Bimo.

Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan pihak Ditjen Imigrasi Kemenkumham untuk mendalami izin pemilik investasi tersebut masuk ke Indonesia. Ia pun mengklaim sudah mengantongi beberapa nama pemilik atau pelaku dari investasi bodong ini.

Sementara itu, Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L. Tobing masyarakat yang menjadi korban investasi bodong rata-rata tergiur dengan bungan besar yang ditawarkan. Jika korban sudah banyak tertipu, para pelaku yang kebanyakan orang asing akan melarikan diri ke luar negeri.

Untuk itu, ia pun mengimbau masyarakat untuk selalu berpedoman dengan istilah 2 L sebelum terjun ke dunia investasi, yakni, legal dan logis.

“Tanyakan dulu izin dari Bappebti. Kalau tidak ada jangan diikuti. Lalu pakai logika kalau ada yang memberi bunga besar. Dengan bunga 15 persen sampai 30 persen per bulan dan ini tidak masuk akal,” ujarnya.


Dari data yang ia terima, angka investigasi bodong meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2017, tercatat ada 80 investasi bodong. Tahun 2018 meningkat menjadi 108 investasi bodong dan tahun ini sebanyak 177 investasi bodong.

Ia menuturkan, informasi mengenai daftar perusahaan yang tidak memiliki izin dari otoritas berwenang dapat diakses melalui Investor Alert Portal pada www.sikapiuangmu.ojk.go.id.

“Jika menemukan tawaran investasi yang mencurigakan ataupun fintech lending ilegal, masyarakat dapat mengkonsultasikan atau melaporkan kepada Kontak OJK 157, email [email protected] atau [email protected],” tuturnya.

Tags

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close